Tgk. H. Ajidar Matsyah akan Menjadi Khatib di Masjid Oman Membawa Khutbah Bertema Mauidhatut Tarikh: Mengembalikan Nilai-Nilai Ke-Acehan Aceh Dengan Seruan Persatuan dan Kesatuan

Seorang muslim sudah sepantasnya mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu Wajhahu menyebutkan, yang artinya “Bacalah sejarah karena sejarah adalah sebaik-baik saksi”. Islam sangat menghargai nilai-nilai sejarah, sehingga al-Quran menceritakan kembali sejarah perjalanan Firuan di dalamnya, seperti dijelaskan pada ayat berikut, yang artinya;

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. Q.S. Yunus: 92. Kenapa kisah Firaun diceritakan kembali dalam al-Quran padahal kisah tersebut terjadi sebelum diturunnya al-Quran, karena untuk menghargai nilai-nilai sejarah. Kalau al-Quran saja menghargai nilai-nilai sejarah, kenapa kita tidak. Oleh itu, mengetahui sejarah Aceh merupakan bagian dari menghargai nilai-nilai sejarah Islam, karena nilai sejarah mengandung mauidhah yang sangat bernilai. Lalu bagaimana sejarah kita di masa lalu, pada hari ini dan ke depan?

Mauidhah penting yang dapat diambil dari masa lalu adalah bahwa Aceh sebuah peradaban Islam dan sebagai pusat ilmu pengetahuan di Asia Tenggara. Adapun Aceh menjadi sebuah peradaban Islam dihitung sejak dideklarasikannya Kerajaan Islam Pereulak pada hari Selasa, tanggal 1 Muharram tahun 225 H/840 M.

Dua ratus tahun setelah di Peurelak, kemudian muncul Kerajaan Islam Pasai di Aceh Utara, yang didirikan pada tahun 433 H/1042 M. Kemudian muncul Kerajaan Islam Taimiang di Aceh Timur (sekarang Aceh Taimiang), pada tahun 580 H/1184 M. Selanjutnya Kerjaan Islam Pidie di Aceh PIdie, pada abad 8 H/14 M. Kemudian Kerajaan Islam Lingga di Aceh Tengah, dan Kerajaan Islam Isak di Aceh Tengah, keduanya diperkirakan didirikan pada tahun 376 H/986 M. Selanjutnya Kerajaan Islam Daya di Lamno Aceh Jaya, yang berdiri sekitar abad ke XV. Kemudian Kerajaan Aceh Darussaalam yang dideklarasikan pada 12 Zulqaidah  tahun  916 H/1511 M.

Jika dihitung dari sejak berdirinya sebagai pusat peradaban pertama di Pereulak pada tahun 225 H, sementara hari ini sudah berada pada tahun 1441 H, maka usia peradaban Aceh sudah berusia sekitar 1216 tahun. Para sejarawan lokal dan luar negeri sepakat Aceh pernah menjadi super power di Asia Tengara dalam berbagai bidang, menguasai hampir seluruh semanjung Malaya, sebagian Pulau Sumatra. Ini gambaran sekilas Aceh di masa lalu, lalu bagaimana Aceh hari ini?.

Sebagian orang menilai bahwa kondisi Aceh hari ini ibarat sebatang tebu yang hilang manisnya. Salah satu yang paling parah hari ini adalah hilangnya identitas ke-Acehan masyarakat Aceh. Beberapa faktor dapat dikesan menjadi penyebabnya, di antara lain; menurunnya nilai-nilai agama, dan pudarnya patriotisme ke-Acehan di kalangan masyarakat Aceh. Efeknya adalah masyarakat lebih senang dengan apa yang ada pada orang lain, berbanding dengan apa yang ada pada sendiri, lebih suka meng-oranglainkan orang sendiri berbanding meng-oranglainkan orang lain.

Untuk menata masa depan Aceh dan ke-Acehannya, dan mengembalikan nilai-nilai ke-Acehan kembali seperti di masa jayanya, beberapa hal dapat dilakukan, antara lain;

  • Memperkuat kembali pemahaman tentang agam dan keagamaan, karena agama memiliki power untuk menjaga peradaban umat. 
  • Mempelajari kembali sejarahnya sendiri karena dengan sejarah suatu masyarakat akan mengenal siapa dirinya, dan identitasnya.
  • Mengahargai bangsanya sendiri, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengahrgai bangsanya sendiri
  • Menghindari konflik sesama sendiri, baik konflik politik maupun konflik sosial, karena konflik akan melemah bangsa itu sendiri, Aceh akan lemah dalam segala hal kalau sesama sendiri masih berkonflik.

Memperkuat persatuan dan kesatuan sesama Aceh, dengan slogan ACEH SATU. Jika kita sesama Aceh hilang tali persatuan maka kita diinjak-injak pihak lain sehingga menjatuhkan marwah dan harga diri kita.

Allah SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Ali Imran:200).

Mungkin Anda Menyukai